Langsung ke konten utama

My Angkot My Adventure

SMA/SMK adalah masa-masa dimana banyak cerita dan pengalaman seru. Seragam putih abu-abu menjadi identitas kami, sama seperti diri ini, yang masih mencari jati diri sembari menyiapkan pribadi yang lebih mandiri. Kini, segala cerita seru dan unik akan aku mulai. 
Perkenalkan aku Rosiana Muslimah. You can call me Ana,  namun ketika SMK akrab disapa Yeye. Entah karena apa teman-teman memanggilku dengan nama itu, kata mereka sih karena aku adalah salah satu fansgirl boyband di Korea Selatan. Hehehe…
Sejak kelas 1 SMK, aku terkenal dengan Anak Angkot. Orang tuaku tidak berprofesi sebagai supir angkot, tapi karena pulang pergi sekolah aku naik angkot bahkan setiap hari. Menurutku, naik transportasi umum lebih menyenangkan, kita dapat bersosialisasi dengan masyarakat dan saat itu banyak teman-teman yang naik angkot pula. Bahkan kami sampai memberi julukan, Angkot in The Show.

Angkot in The Show ini terdiri dari Aku, Alya, Evi, Mbak Gita, Mbak Bela. Mbak Gita dan Mbak Bela adalah kakak tingkatku. Kami berasal dari sekolah yang sama kecuali Mbak Bela, dia tetanggaan dengan sekolah kami. Sebenarnya masih banyak anak satu sekolahan yang naik angkot, tapi nggak sesering kita gitu. Meskipun kita anak angkot tapi kami tetap eksis.

Sepulang sekolah kami bergegas menuju tempat biasanya menunggu angkot, duduk di pinggir trotoar sembari minum es kopi, es degan, es tes dan jajanan yang lain. Nunggu angkot itu adalah hal yang membosankan kalau nungguinnya sendirian, tapi kalau barengan jadi lebih mengasyikkan. Butuh kesabaran nunggu angkot, lamanya udah kayak nunggu jodoh.

Ini kok lama banget sih, hampir satu jam lebih. Temen-temen yang lain udah pada istirahat, nonton tv di rumah, kita? Jangankan istirahat di rumah, dapet angkot aja belum.” Kataku kesal.

“Iya nih, sampe pegel gua.” Kata Alya.

“Eh dek, itu ada angkot!”Kata Mbak Gita, sambil menunjuk angkot yang datang.
Lihat angkot datang aja, senangnya bukan main.

“Kiri Pak! Kiri Pak! Sambil melambaikan tangan kepada pak supir angkot yang kian mendekat kearah kami.

“Maaf mbak, angkotnya lagi di-booking. Naik yang belakangnya aja ya!”

Wajah kami yang tadinya gembira karena melihat datangnya angkot yang menandakan agar cepat bisa pulang ke rumah, hilang begitu saja menjadi kesal dan kembali menunggu. Huft……..

Ya, seperti yang aku bilang. Menunggu angkot itu kayak cari jodoh, nunggu lama tapi belum tentu dapet. Walau hampir setiap hari waktu kami habis hanya karena menunggu angkot, tapi semakin banyak cerita yang kami dapat dari kondisi tersebut. Hampir setiap hari kami naik angkot, otomatis hampir setiap hari pula kami saling bertemu.
Oleh karena itu, ketika angkot datang, kami langsung cari tempat duduk belakang. Kami banyak menghabiskan canda tawa di dalam angkot. Mulai dari rumpiin pelajaran, rumpiin orang lewat, tidur di angkot, sampe ketawa-ketawa nggak jelas. Mungkin itu sebagai gantinya lelah kami, ketika menunggu angkot. Itulah mengapa kami beri julukan, Angkot in The Show, rumpinya suka kambuh kalau bareng di angkot. Saking hebohnya kami, sampai bapak-bapak yang angkotnya pernah kita naiki jadi hafal. Maafkan atas kegaduhan kami pak.

Hal-hal itulah yang bagi kami tidak malu untuk naik transportasi umum, semua kami lakukan bersama. Pernah pada suatu hari, kami naksir cowok yang kebetulan naik angkot yang sama.

“Eh Ye, kemarin waktu lu kagak naik angkot. Gue sama Alya lihat mas ganteng kayak orang Korea dan ternyata dia sekolahnya tetanggaan sama kita. Iya kan Al?” Jelas Evi.

“Ho’o bener.” Imbuh Alya

“Seriusan lu? Nanti dia naik angkot lagi nggak ya?”Tanyaku, karena kemarin saat pulang sekolah aku dijemput Ayah, jadi nggak bisa naik angkot barengan mereka.

“Kita serius! Yaa, semoga aja nanti dia naik angkot lagi. Jarang-jarang mas ganteng naik angkot hehehe.” Kata Alya.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, hampir setengah jam kami bertiga menunggu angkot, sudah beberapa hari Mbak Gita dan Mbak Bela tidak naik angkot, mungkin karena ada tugas atau keperluan yang lain. Aku, Evi dan Alya selain menunggu angkot juga menunggu seseorang , siapa lagi kalau bukan Mas-mas yang diceritain tadi. Lalu, beberapa menit kemudian dia datang, menunggu angkot bersama kami.

“Itu diaaa, yang aku bilang tadi. Ganteng kan kayak orang Korea” Kata Evi sambil tertawa pelan.

“Oh jadi dia, iya bener, ganteng.” Kataku meng-iyakan Evi.

“Mudah-mudahan tiap hari naik angkot ya, hahaha” Kata Alya dan kami pun tertawa.

Beberapa hari kemudian, ada kabar terbaru tentang mas ganteng itu. Setibanya disekolah, Evi bergegas masuk kelas dan memberikan kabar itu.

“Ye, Al, ternyata masnya itu udah kelas 3 loh.” Kata Evi.

“Yaa, bentar lagi dia mau UN dong. Lu tau dari mane?” Kataku.

“Gue tau nama masnya, waktu dia naik angkot nggak sengaja nametagnya kebaca. Terus gue cari deh namanya di Facebook dan ketemu, langsung deh gue kepoin.” Jelas Evi.

Setelah kami mengetahui nama dan akun sosial medianya, dia sudah semakin jarang naik angkot, mungkin karena mendekati Ujian Nasional. Huhu…

Hampir tiga tahun Aku, Alya, Evi bersama. Aku bersyukur dalam keadaan apa pun itu kami tetap bersama. Selain canda dan tawa, ada pula pengalaman sedih yang kami lewati. Tidak terasa giliran kami menghadapi Ujian Nasional, beraneka ragam kegiatan yang kita lakukan mendekati UN sehingga mengharuskan kami untuk pulang lebih dari pukul 4 sore dan resikonya pasti kami tidak dapat naik angkot. Itulah salah satu alasan mengapa Alya memilih untuk mengendarai sepeda motor, karena jarak rumahnya pun jauh. Jadi, yang masih naik angkot adalah Aku dan Evi.

Sore itu langit mendung, jam tangan sudah menunjukkan pukul 4.20 sore sedangkan aku dan Evi masih mengerjakan tugas kelompok untuk Ujian Praktik. Sepuluh menit kemudian, kami bergegas pulang, berharap apabila tidak ada angkot yang lewat tapi masih bisa naik bis atau transportasi lain untuk mengantarkan kami pulang. Hampir 10 menit kami menunggu, belum ada bis yang bisa kami naiki, hanya bis lintas kota yang lalu-lalang di depan kami.

Tak terasa, tetasan air hujan mulai membasahi seragam kami.

“Hujan nih, jalan aja yuk!. Nggak ada yang lewat ini daripada pulang kemaleman.” Ajakku

“Iya nih, yaudah yuk jalan aja.” Balas Evi.

Akhirnya kami berdua mulai meninggalkan halte dan berjalan di bawah derasnya hujan dengan berpayungkan sebuah jaket. Hatiku bergetar dan terharu apabila mengenang kejadian di hari itu. Kami terus berjalan, sesekali menengok belakang apabila ada bis yang masih bisa kita naiki. Pada saat itu harapan kami hanya satu,

“Ya Allah, berikan kami kekuatan dan kesabaran. Tolong kami, Ya Allah.”

Hujan semakin deras, angin pun bertiup kencang. Kami memutuskan untuk beristirahat di salah satu warung pinggir jalan, pemilik warung pun memperbolehkan kami untuk beristirahat sejenak. Aku dan Evi saling memandang, wajah kami sudah letih, seragam dan tas basah kuyup, sepatu terasa berat sekali seakan terisi pasir. Beberapa menit kemudian, bis yang kami tunggu pun akhirnya datang, bergegas kami berpamitan dengan pemilik warung dan naik bis. Terimakasih Ya Allah.
Namun, karena jalur bis tidak sama seperti jalur angkot, jadi kami turun di halte berikutnya. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 5.30 sore, kami dengan basah kuyup karena hujan lalu mencari becak untuk menghantarkan kami pulang. Dilanjutkan perjalanan pulang kami dengan naik becak. Sesampainya di pasar, aku dan Evi berpamitan, karena rumah kami berbeda.

Benar-benar pengalaman yang luar biasa hari itu, aku tidak pernah malu dengan keadaanku harus naik angkot setiap kali berangkat dan pulang sekolah. Aku sadar bahwa mungkin, apabila aku tidak naik angkot aku juga tidak akan memiliki cerita dan pengalaman seperti itu. Membuat diriku belajar bersabar dan ikhlas dalam menghadapi segala kondisi yang Allah berikan padaku.

Komentar